Blogroll

Galau -___-"

0 komentar
galau nak ngepos apo lagi, template nyo jg katek yg biso ku dwonload.
pening lah utak aku haha ngakak :D

BRUNO MARS -- JUST THE WAY YOU ARE

0 komentar
0 komentar

si kelvin , ganteng ya sepupu ku :*

0 komentar

Membuat Cara Agar Mengunyah Permen Karet Bisa Menurunkan Berat Badan

0 komentar
"Tahap satu dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa kita dapat memberikan jumlah PYY yang relevan secara klinis ke dalam aliran darah."

Kebanyakan orang mengerti bahwa penurunan berat badan yang serius memerlukan perubahan sikap terhadap apa yang mereka makan dan seberapa sering mereka berolahraga. Namun, bagaimana jika prosesnya dapat dibantu dengan hanya mengunyah permen karet setelah makan? Itulah pertanyaan yang tengah dicoba dijawab oleh tim ilmuwan, yang dipimpin oleh ahli kimia Universitas Syracuse, Robert Doyle. Dalam sebuah studi terbaru, tim Doyle menunjukkan, untuk pertama kalinya, bahwa sebuah hormon penting yang membantu orang merasa “kenyang” setelah makan dapat disampaikan secara oral ke dalam aliran darah.
Studi Doyle ini dipublikasikan dalam Journal of Medicinal Chemistry American Chemical Society. Doyle adalah seorang profesor di Departemen Kimia di Universitas Syracuse. Dalam studi ini, Doyle berkolaborasi dengan para peneliti dari Universitas Murdoch di Australia.
Hormon, yang disebut PYY manusia, merupakan bagian dari sistem kimiawi yang mengatur nafsu makan dan energi. Ketika orang makan atau berolahraga, PYY dilepaskan ke dalam aliran darah. Jumlah PYY yang dilepaskan meningkat bersama jumlah kalori yang dikonsumsi.
Studi terdahulu telah menunjukkan bahwa orang yang mengalami obesitas memiliki konsentrasi PYY yang lebih rendah dalam aliran darahnya, baik pada saat puasa maupun sesudah makan. Selain itu, infus intravena PYY pada kelompok relawan obesitas dan non-obesitas meningkatkan kadar serum hormon dan menurunkan jumlah kalori yang dikonsumsi oleh kedua kelompok.
“PYY adalah hormon penekan nafsu makan,” kata Doyle. “Tapi, bila dikonsumsi secara oral, hormon ini hancur dalam perut dan yang tidak hancur akan kesulitan menyeberang ke aliran darah melalui usus.”
Apa yang dibutuhkan adalah cara untuk menyamarkan PYY sehingga dapat melakukan perjalanan melalui sistem pencernaan yang relatif tidak berbahaya. Beberapa tahun yang lalu, Doyle mengembangkan cara untuk menggunakan vitamin B12 sebagai kendaraan untuk pengiriman hormon insulin secara oral. B12 mampu melewati sistem pencernaan dengan relatif mudah dan membawa insulin, atau zat lain, ke dalam aliran darah. Demikian pula, tim risetnya memasang hormon PYY pada sistemnya vitamin B12. “Tahap satu dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa kita dapat memberikan jumlah PYY yang relevan secara klinis ke dalam aliran darah,” kata Doyle. “Kami melakukan itu, dan kami sangat gembira akan hasilnya.”
Langkah berikutnya adalah menemukan cara untuk memasukkan sistem B12-PYY ke hal lain seperti permen karet atau tablet oral untuk menciptakan suplemen nutrisi agar bisa membantu individu menurunkan berat badan dalam cara yang sama seperti permen karet nicotine-laced yang digunakan untuk membantu orang berhenti merokok.
“Jika kami berhasil, permen karet PYY-laced akan menjadi cara alami untuk membantu orang menurunkan berat badan,” katanya. “Mereka bisa makan makanan yang seimbang, lalu mengunyah permen karet Suplemen PYY yang akan mulai bereaksi sekitar tiga sampai empat jam kemudian, menurunkan nafsu makan mereka ketika mereka mendekati makan berikutnya.”

Pemanasan Global? Hutan Di Masa Depan Jauh Lebih Tanggu Dalam Meredam Karbon Dioksida

0 komentar
Pohon-pohon yang bermandikan karbon dioksida tingkat tinggi justru terus bertumbuh pada tingkat yang dipercepat dalam seluruh percobaan selama 12 tahun.

Hutan Amerika Utara tampaknya memiliki kapasitas yang besar untuk menyerap gas perangkap-panas, karbon dioksida, lebih besar dari dugaan para peneliti sebelumnya.
Hasilnya, hutan bisa membantu memperlambat laju pemanasan iklim yang disebabkan manusia, lebih dari yang diperkirakan oleh para ilmuwan, simpul seorang ahli ekologi UM dan rekan-rekannya.
Hasil dari studi 12 tahun pada hutan eksperimental di timur laut Wisconsin ini bertentangan dengan beberapa asumsi lama tentang bagaimana hutan di masa depan akan merespon meningkatnya kadar karbon dioksida atmosfer akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia, kata ahli ekologi mikroba Donald Zak dari University of Michigan, penulis utama makalah yang dipublikasikan online minggu ini dalam Ecology Letters.
“Beberapa asumsi awal tentang respon ekosistem tidaklah benar dan harus direvisi,” kata Zak.
Pandangan dari udara hutan percobaan seluas 38-hektar di Wisconsin, di mana para peneliti UM dan para kolega terus-menerus memaparkan kanopinya dengan peningkatan kadar gas karbon dioksida dan ozon dari tahun 1997 sampai 2008. (Kredit: David Karnosky, Michigan Technological University)
Untuk mensimulasikan kondisi atmosfer pada paruh kedua abad ini, Zak bersama rekan-rekannya secara terus-menerus memompa karbon dioksida tambahan ke atas kanopi hutan eksperimental di Rhinelander, Wis, dari tahun 1997 hingga tahun 2008.
Beberapa pohon juga dikenakan kadar ozon tingkat-dasar yang berlebih untuk mensimulasikan udara yang semakin tercemar di masa depan. Kedua bagian percobaan yang didanai pemerintah federal ini – karbon dioksida dan ozon – memperlihatkan hasil yang sama sekali tidak terduga.
Selain memerangkap panas, karbon dioksida juga diketahui memiliki efek pemupukan pada pohon dan tanaman lain, membuat mereka bertumbuh lebih cepat dari biasanya. Para peneliti iklim dan pemodel ekosistem berasumsi bahwa dalam beberapa dekade mendatang, efek pemupukan karbon dioksida secara temporari akan meningkatkan laju pertumbuhan hutan beriklim di utara.
Studi sebelumnya telah menyimpulkan bahwa lonjakan pertumbuhan ini akan berumur pendek, menggerinda untuk sebuah perhentian ketika pohon-pohon tidak mampu lagi menyerap nutrisi esensial nitrogen dari tanah.
Namun, pada penelitian Rhinelander, pohon-pohon yang bermandikan karbon dioksida tingkat tinggi justru terus bertumbuh pada tingkat yang dipercepat dalam seluruh percobaan selama 12 tahun. Dalam tiga tahun terakhir penelitian, pohon-pohon yang meredam CO2 bertumbuh 26 persen lebih daripada pohon-pohon yang terkena karbon dioksida pada tingkat normal.
Tampaknya karbon dioksida tambahan ini memungkinkan pohon untuk menumbuhkan akar-akar kecil lebih banyak lagi dan “memakan” nitrogen di dalam tanah dengan lebih berhasil, kata Zak. Pada saat yang sama, tingkat di mana mikroorganisme melepaskan nitrogen kembali ke tanah, sebagaimana dedaunan jatuh dan cabang membusuk, juga mengalami peningkatan.
“Pertumbuhan yang lebih besar ini telah ditopang oleh percepatan pendauran nitrogen tanah, bukan perlambatan pendauran,” kata Zak. “Pada kondisi karbon dioksida yang tinggi, pepohonan melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk mengeluarkan nitrogen dari tanah, dan terdapat lebih banyak lagi bagi penggunaan tanaman.”
Zak menekankan bahwa peningkatan pertumbuhan hasil efek dari CO2 ini pada akhirnya akan “menabrak dinding” dan tiba ke perhentian. Akar pohon akhirnya akan “sepenuhnya memanfaatkan” sumber nitrogen tanah. Tidak ada yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai batas tersebut, katanya.
Percobaan 12-tahun pada bagian ozon juga menghadirkan kejutan.
Ozon tingkat-dasar diketahui dapat merusak jaringan tanaman dan mengganggu fotosintesis. Dugaan konvensional sebelumnya menyebutkan bahwa di masa depan, meningkatnya kadar ozon akan membatasi sejauh mana meningkatnya kadar karbon dioksida akan mempromosikan pertumbuhan pohon, membatalkan beberapa kemampuan hutan untuk menyangga pemanasan iklim.
Dalam beberapa tahun pertama percobaan Rhinelander, memang itulah yang terobservasi. Pohon yang terkena peningkatan kadar ozon tidak bertumbuh secepat pohon-pohon lainnya. Tetapi pada akhir penelitian, ozon justru tidak berpengaruh sama sekali pada produktivitas hutan.
“Yang menarik dalam mengambil titik balik dalam hal ini adalah bahwa aspek-aspek keanekaragaman biologis – seperti keragaman genetik dan komposisi spesies tanaman – merupakan komponen penting dari respons ekosistem terhadap perubahan iklim,” katanya. “Keanekaragaman hayati adalah penting, dalam hal ini.”

peneliti Menemukan Bukti Adanya Keadaan Hipnotis

0 komentar
Dalam bidang penelitian hipnosis, hasil ini menunjukkan bahwa hipnosis tidak bisa lagi dianggap sebagai citra mental yang terjadi selama keadaan sadar.

Para peneliti telah menemukan bukti adanya kondisi hipnosis – kuncinya adalah pada mata yang menatap sayu.
Sebuah kelompok peneliti multidisiplin dari Finlandia (Universitas Turku dan Universitas Aalto) serta Swedia (Universitas Skovde) telah menemukan bahwa tatapan yang asing dapat menjadi kunci yang pada akhirnya dapat membawa solusi bagi perdebatan panjang tentang keberadaan kondisi hipnosis.
Salah satu fitur yang paling banyak dikenal pada seseorang yang terhipnotis dalam budaya populer adalah mata sayu yang terbuka lebar. Paradoksnya, tanda ini belum dianggap memiliki kepentingan utama di kalangan para peneliti dan belum pernah dipelajari secara rinci, mungkin karena fakta bahwa hal tersebut hanya bisa terlihat pada beberapa orang yang terhipnotis saja.
Penelitian ini dilakukan pada para peserta yang sangat mudah dihipnotis dengan hanya satu kata. Perubahan antara kondisi hipnotis dan keadaan normal dapat bervariasi dalam hitungan detik.
Para peneliti menggunakan metodologi pelacakan-mata beresolusi tinggi dan menyajikan satu set tugas oculomotor yang memicu perilaku mata otomatis. Mereka menemukan bahwa tatapan sayu, yang secara obyektif didampingi dengan perubahan terukur dalam perilaku mata refleksif otomatis, tidak dapat ditiru oleh para peserta non-terhipnotis.
Dalam bidang penelitian hipnosis, hasil ini menunjukkan bahwa hipnosis tidak bisa lagi dianggap sebagai citra mental yang terjadi selama keadaan sadar. Di sisi lain, hasil ini mungkin memiliki konsekuensi yang lebih luas bagi psikologi dan ilmu saraf kognitif, karena menyediakan bukti pertama keberadaan kondisi sadar pada manusia yang sebelumnya belum dikonfirmasi secara ilmiah.
Hipnosis memiliki sejarah panjang dan kontroversial dalam bidang psikologi, psikiatri dan neurologi. Selama lebih dari 100 tahun, para peneliti telah memperdebatkan apakah keadaan hipnosis memang ada ataukah itu hanya soal penggunaan strategi kognitif dan citra mental dalam keadaan normal. Sejauh ini, kondisi hipnosis tidak pernah ditunjukkan dengan secara meyakinkan, dan akibatnya, banyak peneliti menganggap kondisi hipnosis hanyalah sebagai mitos yang populer dalam psikologi.
Para penulis juga menyediakan video-klip di mana perubahan dalam perilaku mata peserta ditampilkan: http://www.plosone.org/article/fetchSingleRepresentation.action?uri=info:doi/10.1371/journal.pone.0026374.s001

Gambar Otak Psikopat Menunjukkan Struktur Dan Fungsi Yang Berbeda

0 komentar
Penelitian ini membandingkan otak 20 orang tahanan psikopat dengan otak 20 tahanan lain yang melakukan kejahatan serupa tapi tidak terdiagnosis sebagai psikopat.

Gambar-gambar otak para tahanan menunjukkan perbedaan yang penting di antara mereka yang terdiagnosis sebagai psikopat dan mereka yang tidak terdiagnosis psikopat, demikian hasil dari studi terbaru yang dipimpin para peneliti University of Wisconsin-Madison.
Studi ini menunjukkan bahwa psikopat mengalami pengurangan koneksi di antara korteks prefrontal ventromedial (vmPFC), bagian otak yang bertanggung jawab terhadap sentimen seperti empati dan rasa bersalah, dan amigdala, yang memediasi ketakutan dan kecemasan. Dua tipe gambar otak dikumpulkan. Gambar tensor difusi (DTI) menunjukkan adanya pengurangan integritas struktural dalam serat materi putih yang menghubungkan dua area, sementara jenis gambar kedua yang memetakan aktivitas otak, gambar resonansi magnetik fungsional (fMRI), menunjukkan aktivitas yang kurang terkoordinasi di antara vmPFC dan amigdala.
“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan perbedaan struktural maupun fungsional dalam otak orang yang terdiagnosis sebagai psikopat,” kata Michael Koenigs, asisten profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat University of Wisconsin. “Dua struktur di otak ini, yang diyakini mengatur perilaku emosi dan sosial, tampaknya tidak berkomunikasi sebagaimana semestinya.”
Penelitian ini, yang berlangsung di sebuah penjara keamanan menengah di Wisconsin, merupakan sebuah kolaborasi yang unik antara tiga laboratorium.
Profesor psikologi UW-Madison, Joseph Newman, telah memiliki kepentingan jangka panjang untuk mempelajari dan mendiagnosis psikopat dan telah bekerja secara ekstensif dalam sistem koreksi Wisconsin. Dr. Kent Kiehl, dari University of New Mexico dan MIND Research Network, memiliki scanner MRI mobile yang bisa dibawa ke penjara dan digunakan untuk memindai otak para tahanan. Koenigs dan mahasiswa pascasarjananya, Julian Motzkin, memimpin analisis pemindaian otak ini.
Penelitian ini membandingkan otak 20 orang tahanan psikopat dengan otak 20 tahanan lain yang melakukan kejahatan serupa tapi tidak terdiagnosis sebagai psikopat.
“Kombinasi kelainan struktural dan fungsional ini menyediakan bukti kuat bahwa disfungsi yang teramati dalam sirkuit sosial-emosional krusial merupakan karakteristik stabil pelanggar psikopat kami,” kata Newman. “Saya optimis bahwa pekerjaan kolaborasi kami yang sedang berlangsung ini akan menjelaskan lebih lanjut tentang sumber disfungsi dan strategi untuk mengobati masalah ini.”
Newman mencatat bahwa tidak satupun dari pekerjaan ini akan bisa terwujud tanpa dukungan luar biasa yang disediakan oleh Departemen Pemasyarakatan Wisconsin (DOC), yang ia sebut sebagai “mitra diam dalam penelitian ini.” Dia mengatakan bahwa DOC telah menunjukkan komitmen yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mendukung perancangan penelitian untuk memfasilitasi diagnosis diferensial dan pengobatan tahanan.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience terbaru ini, didasarkan pada studi sebelumnya oleh Newman dan Koenigs, yang menunjukkan bahwa pengambilan keputusan psikopat mencerminkan bahwa pasien ini memiliki kerusakan pada korteks prefrontal ventromedial (vmPFC). Ini bukti sokongan bahwa masalah dalam bagian otak ini terhubung pada gangguan tersebut.
“Studi pengambilan keputusan secara tidak langsung menunjukkan apa yang ditunjukkan secara langsung pada penelitian ini – bahwa ada kelainan otak tertentu yang berhubungan dengan kejahatan psikopat,” tambah Koenigs.

Studi Mengeksplorasi Ketidakpercayaan Orang Beragama Terhadap Aties

0 komentar
Dalam satu studi, ditemukan deskripsi bahwa orang yang tidak bisa dipercaya lebih mewakili ateis daripada Kristen, Muslim, gay, feminis atau orang Yahudi.

Ketidakpercayaan (distrust) merupakan faktor pendorong utama di balik mengapa orang beragama tidak menyukai ateis, demikian menurut sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh para psikolog University of British Columbia.
“Di mana agama menjadi mayoritas – yaitu, di sebagian besar di dunia – ateis adalah salah satu yang paling sedikit dipercaya,” kata penulis utama Will Gervais, seorang mahasiswa doktoral di Departemen Psikologi UBC. “Dengan lebih dari setengah miliar ateis di seluruh dunia, prasangka ini memiliki potensi untuk mempengaruhi sejumlah besar orang.”
Sementara alasan di balik pertentangan terhadap ateis belum sepenuhnya dieksplorasi, penelitian ini – yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology – merupakan salah satu eksplorasi pertama pada proses psikologis sosial yang mendasari sentimen anti-ateis.
“Antipati ini mencolok, karena ateis bukan kelompok sosial yang terlihat jelas dan kuat,” kata Gervais, yang turut menulis penelitian dengan Profesor Asosiasi UBC, Ara Norenzayan dan Azim Shariff, dari University of Oregon.
Para peneliti melakukan serangkaian enam penelitian dengan 350 orang dewasa Amerika dan hampir 420 mahasiswa di Kanada, mengajukan sejumlah pertanyaan hipotetis dan skenario pada masing-masing kelompok. Dalam satu studi, ditemukan deskripsi bahwa orang yang tidak bisa dipercaya lebih mewakili ateis daripada Kristen, Muslim, gay, feminis atau orang Yahudi. Hanya pemerkosa yang tidak bisa dipercaya pada tingkat yang sebanding.
Para peneliti menyimpulkan bahwa ketidakpercayaan pemeluk agama itu merupakan motivator utama dari prasangka terhadap ateis, menambahkan bahwa studi ini menawarkan petunjuk penting tentang cara memerangi prasangka ini.
Salah satu motivasi penelitian ini berasal dari jajak pendapat Gallup yang menemukan bahwa hanya 45 persen responden Amerika yang akan memilih presiden ateis yang berkualitas, kata Norenzayan. Angka tersebut merupakan yang terendah di antara beberapa kandidat hipotetis minoritas. Responden jajak pendapat menilai ateis sebagai kelompok yang paling tidak setuju dengan visi mereka tentang Amerika, dan bahwa mereka sebagian besar akan tidak menyetujui anak-anak mereka menikah.
Perilaku keagamaan lainnya dapat memberikan isyarat-syarat sosial yang penting bagi orang-orang beragama, kata para peneliti. “Penampilan luar yang menyakini Tuhan dapat dipandang sebagai perwakilan dari orang yang bisa dipercaya, terutama oleh penganut agama yang berpikir bahwa orang akan berperilaku lebih baik jika mereka merasa diawasi Tuhan,” kata Norenzayan. “Sementara ateis mungkin memandang ketidakimanan mereka sendiri sebagai masalah pribadi pada hal-hal metafisis, orang beragama mungkin malah mempertimbangkan bahwa tidak adanya iman ateis tersebut merupakan ancaman publik pada kerjasama dan kejujuran.”

Kebahagian Berkolerasi Dengan Umur Panjang

0 komentar
Don’t Worry. Be Happy. Syair lagu yang terkenal ini tampaknya lebih bermakna berdasarkan studi terbaru yang menunjukkan bahwa kebahagiaan berkontribusi bagi usia yang lebih panjang.

Orang-orang yang bahagia tidak hanya menikmati hidup, tapi juga cenderung hidup lebih lama. Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, menemukan bahwa orang yang dilaporkan merasa bahagia setiap harinya adalah 35 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mati dalam 5 tahun berikutnya jika dibandingkan dengan mereka yang kurang bahagia.
Penelitian sebelumnya tentang kebahagiaan dan umur panjang telah melihat bagaimana orang memiliki perasaan di masa lalu. Ingatan-ingatan perasaan ini tidak selalu akurat. Tidak semua orang bisa ingat persis bagaimana perasaan mereka pada beberapa hari yang lalu, sehingga informasinya menjadi sedikit kurang sempurna.
Untuk studi ini, para peneliti yang dipimpin Profesor Psikologi di University College London, memantau 3.800 peserta antara usia 52 hingga 79 tahun. Mereka diminta untuk merekam tingkat kebahagiaan mereka, kecemasan dan berbagai emosi lain di empat titik tertentu sepanjang satu hari tertentu.
Berdasarkan jawaban-jawaban mereka, para peneliti membagi para peserta menjadi tiga kelompok berdasarkan tingkat kebahagiaan dan perasaan positif. Masing-masing kelompok adalah sebanding dalam hal etnis, status pekerjaan, kesehatan secara keseluruhan dan pendidikan, tetapi bervariasi dalam hal usia, kekayaan dan apakah mereka merokok atau tidak.
Setelah jangka waktu lima tahun, para peneliti menemukan bahwa, tujuh persen dari kelompok yang kurang bahagia telah meninggal dibandingkan dengan empat persen pada kelompok yang paling bahagia. Kelompok menengah berada di lima persen.
Para peneliti kemudian memeriksa masing-masing kelompok lagi dan mengontrol faktor usia, penyakit kronis, olahraga, konsumsi alkohol, depresi dan sosial ekonomi. Dengan faktor-faktor yang sudah dipertimbangkan ini, mereka menemukan bahwa 35 persen dari kelompok yang paling bahagia memiliki kemungkinan yang kecil untuk meninggal sedangkan kelompok setengah bahagia adalah 20 persen lebih rendah.
Para peneliti menyebutkan bahwa emosi positif mempengaruhi area-area otak yang juga bekerja dalam fungsi pembuluh darah dan peradangan. Hormon kortisol juga dipengaruhi oleh perubahan dalam emosi dan bisa memainkan peran.
Meskipun studi ini tidak secara langsung membuktikan bahwa kebahagiaan mempengaruhi umur, namun tetap menunjukkan bahwa dokter harus memperhatikan keadaan emosional pasien mereka yang lebih tua. Steptoe yakin bahwa temuan ini memberi alasan bagi pentingnya menargetkan kesejahteraan positif pada pasien-pasien yang lebih tua untuk meningkatkan kesehatan mereka.

Para Peneliti Mengungkapkan Mengapa Pengalaman Mati Suri Hanyalah Tipuan Pikiran

0 komentar
Pengalaman mati suri bukanlah fenomena paranormal, melainkan dipicu oleh perubahan pada fungsi normal otak, demikian menurut para peneliti.

Para psikolog yang meninjau berbagai fenomena seperti pengalaman keluar dari tubuh, penglihatan terowongan cahaya atau pertemuan dengan kerabat yang sudah mati, menyatakan bahwa itu semua hanyalah tipuan pikiran, bukan kilasan pengalaman di akhirat.
Para peneliti di Universitas Edinburgh dan Cambridge menyebutkan bahwa sebagian besar pengalaman tersebut dapat dijelaskan dengan adanya reaksi di otak yang dipicu oleh peristiwa-peristiwa traumatis dan terkadang tidak berbahaya.
Mereka menyebutkan bahwa banyak pengalaman mati suri yang umum dapat disebabkan oleh upaya otak untuk membuat rasa sensasi dan persepsi yang tidak biasa yang terjadi selama peristiwa traumatis.
Pengalaman di luar tubuh, misalnya, dapat terjadi ketika adanya gangguan dalam proses multi-sensori otak, lalu penglihatan terowongan dan cahaya terang bisa berasal dari gangguan dalam sistem visual otak yang diakibatkan berkurangnya oksigen.
Studi baru ini juga menunjukkan efek dari noradrenalin, suatu hormon yang dilepaskan oleh otak tengah yang, bila dipicu, bisa membangkitkan emosi positif, halusinasi dan fitur-fitur lain yang berkaitan dengan pengalaman mati suri.
Berdasarkan sebuah jajak pendapat Gallup, sekitar tiga persen penduduk AS mengaku pernah memiliki pengalaman menjelang kematian. Pengalaman mati suri dilaporkan di seluruh budaya dan dapat ditemukan pula dalam literatur di zaman Yunani kuno.
“Beberapa studi yang kami tinjau menunjukkan bahwa banyak orang yang mengalami pengalaman menjelang kematian tidak benar-benar berada dalam bahaya kematian, meskipun sebagian besar mengira demikian. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa semua aspek dari pengalaman mati suri memiliki dasar biologis,” kata Caroline Watt, dari Sekolah Ilmu Filsafat, Psikologi dan Bahasa.

'Ketindihan' Sering Terjadi Pada Siswa Pasien Kejiwaan

0 komentar
Ketika memeriksa kelompok-kelompok tertentu, 28 persen siswa dilaporkan mengalami kelumpuhan tidur, sementara hampir 32 persen pasien kejiwaan dilaporkan mengalami setidaknya satu episode.

Pernah melihat sesuatu yang menakutkan, misalnya hantu, saat Anda berbaring tidur? Anda sadar, ketakutan, panik, tapi entah kekuatan dari mana, Anda sepenuhnya lumpuh, tidak mampu bergerak, bahkan untuk sekedar mengeluarkan suara. Kita sering menyebutnya “ketindihan” meski sebenarnya tidak ada satupun yang menindih Anda selain dampak dari pikiran Anda sendiri.
Ketindihan atau kelumpuhan tidur (sleep paralysis) merupakan kondisi yang hanya mempengaruhi 8 persen dari populasi umum, didefinisikan sebagai “periode waktu yang terpisah selama gerakan otot tertentu terhambat, namun gerakan mata dan pernapasan tetap utuh,” demikian menurut sebuah studi baru dalam jurnal Sleep Medicine Reviews.
Beberapa orang yang mengalami episode ini secara teratur mungkin berusaha untuk menghindari tidur akibat sensasi yang tidak menyenangkan yang mereka alami. Tapi beberapa lainnya justru menikmati sensasi yang mereka rasakan selama kelumpuhan tidur, catat Brian A. Sharpless, asisten profesor psikologi klinis di Penn State.
“Saya sadar bahwa tidak ada ketersediaan tingkat prevalensi kelumpuhan tidur yang didasarkan pada sampel yang besar dan beragam,” kata Sharpless. “Jadi saya menggabungkan data dari studi saya sebelumnya dengan 34 penelitian lainnya dalam rangka menentukan seberapa umumkah hal itu dalam berbagai kelompok yang berbeda.”
Sharpless melihat pada 35 penelitian yang dipublikasikan dari 50 tahun terakhir, mengumpulkan berbagai sampel-makalah dari beberapa negara yang berbeda, untuk menemukan tingkat kelumpuhan tidur selama seumur hidup. Studi ini mensurvei total 36.533 orang. Secara keseluruhan ia menemukan bahwa sekitar seperlima di antaranya mengalami episode tersebut setidaknya sekali. Frekuensi kelumpuhan tidur berkisar dari satu kali dalam seumur hidup hingga setiap malam.
Ketika memeriksa kelompok-kelompok tertentu, 28 persen siswa dilaporkan mengalami kelumpuhan tidur, sementara hampir 32 persen pasien kejiwaan dilaporkan mengalami setidaknya satu episode. Orang yang memiliki gangguan kepanikan bahkan lebih mungkin untuk mengalami kelumpuhan tidur, dan hampir 35 persen dari mereka yang disurvei melaporkan pernah mengalami episode ini. Kelumpuhan tidur juga tampaknya lebih umum di kalangan non-Kaukasia.
“Kelumpuhan tidur sebaiknya dikaji dengan lebih teratur dan seragam dalam rangka menentukan dampaknya pada fungsi individu dan untuk bisa lebih baik mengartikulasikan hubungannya dengan kondisi kejiwaan dan medis lainnya,” kata Sharpless.
Orang mengalami tiga jenis dasar halusinasi saat kelumpuhan tidur: adanya penyusup, tekanan di dada yang kadang disertai dengan pengalaman kekerasan fisik dan/atau seksual, serta levitasi atau pengalaman di luar tubuh.
Hanya ada sedikit penelitian yang membahas bagaimana mengurangi kelumpuhan tidur atau adakah orang yang mengalami episode tersebut sepanjang hidupnya.
“Saya ingin lebih memahami bagaimana kelumpuhan tidur mempengaruhi seseorang, sebagai lawan untuk sekedar mengetahui bahwa mereka mengalaminya,” kata Sharpless. “Saya ingin melihat bagaimana dampaknya terhadap kehidupan mereka.”
Sharpless berharap untuk menemukan hubungan antara kelumpuhan tidur dengan gangguan stress pasca-traumatik di masa depan.
Jacques P. Barber, profesor psikiatri dari University of Pennsylvania, memberikan kontribusi untuk penelitian ini, yang sebagian didukung oleh Institut Nasional Kesehatan Mental.

Probabilitas Menemukan Bilangan 19

0 komentar
Sebuah alat favorit para pemuja bilangan 19 adalah menambahkan hal-hal tertentu sehingga membuat kelipatan 19 ketika kombinasi yang dibuatnya tidak bekerja. Sebagai contoh, jika nomer surah dan nomer ayat tidak memiliki nomor 19, mungkin jumlahnya bisa. Khalifa sering melakukan hal ini, bahkan menambahkan tiga unsur bila perlu, sebagai contoh nomor ayat + jumlah kata + jumlah huruf. Ia tetap menghitungnya memiliki probabilitas 1/19, namun tentu saja ini salah

Sebuah alat favorit para pemuja bilangan 19 adalah menambahkan hal-hal tertentu sehingga membuat kelipatan 19 ketika kombinasi yang dibuatnya tidak bekerja. Sebagai contoh, jika nomer surah dan nomer ayat tidak memiliki nomor 19, mungkin jumlahnya bisa. Khalifa sering melakukan hal ini, bahkan menambahkan tiga unsur bila perlu, sebagai contoh nomor ayat + jumlah kata + jumlah huruf. Ia tetap menghitungnya memiliki probabilitas 1/19, namun tentu saja ini salah
Anggap anda memiliki N bilangan dan anda ingin menemukan kelipatan 19 dengan menambahkannya. Berapa kemungkinan untuk sukses? Perhitungan berikut sedikit kasar, namun menunjukkannya hingga N = 5;
NKemungkinan menemukan 19
15.3%
215.2%
332.8%
459.2%
586.4%
Jadi, misalnya, bila anda memiliki nomor surat, nomor ayat, jumlah kata, jumlah huruf, dan nilai gematrik ayat tertentu, ada kemungkinan 86.4% anda mendapatkan kelipatan 19 dengan menambahkannya. Anda sangat kurang beruntung jika gagal.
Dari mana probabilitas di atas muncul? Pertimbangkan N=2:
A = peristiwa bilangan pertama adalah kelipatan 19,
B = peristiwa bilangan kedua adalah kelipatan 19,
C = A + B = jumlah kedua bilangan kelipatan 19.
Bila dua (atau tiga) merupakan kelipatan 19, begitu juga yang lain.
Tulis P(x) untuk Prob(x kelipatan 19) dst.
P(A atau B atau C) = P(A) + P(B) + P(C)
- P(A dan B) – P(A dan C) – P(B dan C)
+ P(A dan B dan C)
Masing-masing P(A), P(B), P(C) adalah 1/19, dan tiap yang lain adalah 1/19^2.
Jadi jawabannya adalah 3/19 – 3/19^2 + 1/19^2 = 3/19 – 2/19^2.
Metode lain yang lebih mudah: Temukan probabilitas kalau tidak ada kelipatan 19. Untuk A, kemungkinannya adalah 18/19. Dengan A, pilihan untuk B adalah 17/19: satu 1/19 hilang untuk memastikan B bukanlah kelipatan 19, dan 1/19 lain lenyap untuk memastikan A+B bukan kelipatan 19. Dua kasus ini tidak bertindihan karena pada kasus ini, A bukan kelipatan 19.
Untuk kasus N=3, bisa dilakukan pula dengan manual, namun sulit. Untuk N=4, anda perlu membuat program komputer untuk menghitungnya.

Proyeksi Terbaru Menunjukkan Permintaan Pangan Mencapai Dua Kali Lipat Di Tahun 2050

0 komentar
"Analisis kami menunjukkan bahwa kita dapat menghemat sebagian besar ekosistem bumi yang tersisa dengan membantu negara-negara miskin di dunia dalam memenuhi makanan mereka sendiri."

Permintaan pangan global bisa mencapai dua kali lipat pada tahun 2050, demikian menurut sebuah proyeksi terbaru yang dilakukan oleh David Tilman, Profesor Ekologi di Universitas College Minnesota of Biological Sciences, bersama rekan-rekan, termasuk Jason Hill, asisten profesor di College of Food, Agricultural and Natural Resource Sciences.
Memproduksi sejumlah makanan secara signifikan dapat meningkatkan kadar karbon dioksida dan nitrogen pada lingkungan dan menyebabkan kepunahan banyak spesies. Tapi hal ini dapat dihindari apabila teknologi pertanian dari negara-negara kaya diadaptasikan ke negara-negara miskin, dan apabila semua negara menggunakan pupuk nitrogen dengan lebih efisien.
“Emisi gas rumah kaca pertanian bisa dua kali lipat pada tahun 2050 jika kecenderungan dalam produksi pangan global ini terus berlanjut,” kata Tilman. “Pertanian global sudah menyumbang sepertiga dari seluruh emisi gas rumah kaca.” Sebagian besar emisi ini berasal dari pembukaan lahan, yang juga mengancam spesies.
Artikel dalam studi ini menunjukkan bahwa jika negara-negara miskin melanjutkan praktek-praktek seperti saat ini, mereka akan membuka lahan yang lebih besar lagi dari Amerika Serikat (dua setengah miliar hektar) pada tahun 2050. Tetapi jika negara-negara kaya membantu negara miskin meningkatkan hasil panen ke tingkat yang bisa dicapai, maka pembukaan lahan dapat dikurangi menjadi setengah miliar hektar.
Penelitian, yang dipublikasikan 21 November dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan bahwa mengadopsi pertanian “intensif” nitrogen-efisien dapat memenuhi permintaan pangan global di masa depan dengan dampak lingkungan yang jauh lebih rendah daripada “perluasan” pertanian yang dipraktekkan oleh negara-negara miskin, yang membuka lahan untuk menghasilkan lebih banyak makanan. Potensi manfaatnya cukup besar. Pada tahun 2005, hasil panen di negara-negara terkaya mencapai lebih dari 300 persen lebih tinggi dari hasil panen di negara-negara termiskin.
“Secara strategis mengintensifkan produksi tanaman pada negara berkembang dan negara maju akan mengurangi kerusakan lingkungan secara keseluruhan yang disebabkan oleh produksi pangan, serta menyediakan pasokan makanan yang lebih adil di seluruh dunia,” kata Hill.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini memproyeksikan peningkatan permintaan sebanyak 70 persen. Menurut Tilman, proyeksi ini pun menunjukkan bahwa dunia menghadapi masalah lingkungan yang besar kecuali adanya perubahan dalam praktek pertanian.
Dampak lingkungan akibat pemenuhan permintaan tergantung pada bagaimana pertanian global dikembangkan. Pembukaan lahan untuk pertanian serta penggunaan bahan bakar dan pupuk untuk tanaman pertanian meningkatkan karbon dan nitrogen pada lingkungan dan menyebabkan kepunahan spesies.
Dalam tulisan ini, Tilman bersama rekan-rekannya mempelajari berbagai cara untuk memenuhi permintaan pangan dan efek-efek lingkungannya. Pada dasarnya, pilihannya adalah meningkatkan produktivitas pada lahan pertanian yang ada, yang membuka lebih banyak lahan, atau melakukan kombinasi dari keduanya. Mereka mempertimbangkan berbagai skenario pada seberapa banyak penggunaan nitrogen, pembukaan lahan, dan pelepasan emisi gas rumah kaca yang berbeda-beda.
“Analisis kami menunjukkan bahwa kita dapat menghemat sebagian besar ekosistem bumi yang tersisa dengan membantu negara-negara miskin di dunia dalam memenuhi makanan mereka sendiri,” kata Tilman.

Legalisasi Ganja Medis Menurunkan Tingkat Kematian Di Lalu Lintas

0 komentar
"Hasil studi kami menunjukkan adanya hubungan langsung antara ganja dan konsumsi alkohol."

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa hukum yang melegalisasikan ganja medis telah menghasilkan penurunan hampir sembilan persen kematian di lalu lintas dan penurunan lima persen dalam penjualan bir.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa legalisasi ganja medis mengurangi kematian lalu lintas melalui pengurangan konsumsi alkohol oleh orang dewasa muda,” kata Daniel Rees, profesor ekonomi di University of Colorado Denver yang turut menulis penelitian dengan D. Mark Anderson, asisten profesor ekonomi di Montana State University.
Para peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber termasuk Survei Nasional Penggunaan Obat dan Kesehatan, Faktor Risiko Sistem Pengawasan Perilaku, dan Analisis Sistem Pelaporan Kematian.
Studi ini adalah yang pertama yang menguji hubungan antara legalisasi ganja medis dan kematian di lalu lintas.
“Kami terkejut dengan betapa sedikitnya yang diketahui tentang efek dari legalisasi ganja medis,” kata Rees. “Kami melihat pada kematian di lalu lintas karena adanya data yang baik, dan data ini memungkinkan kami menguji apakah alkohol adalah sebuah faktor.”
Anderson mencatat bahwa kematian lalu lintas adalah signifikan dari sudut pandang kebijakan.
“Kematian lalu lintas adalah hasil penting dari perspektif kebijakan karena ini mewakili penyebab utama kematian di antara warga Amerika usia lima sampai 34 tahun,” katanya.
Para ekonom menganalisis kematian lalu lintas nasional, termasuk 13 negara bagian yang melegalkan ganja medis antara tahun 1990 dan 2009. Di negara-negara bagian ini, mereka menemukan bukti bahwa konsumsi alkohol oleh wartga usia antara 20 sampai 29 tahun mengalami penurunan, yang menghasilkan jumlah kematian yang lebih sedikit di jalan.
Para ekonom mencatat bahwa simulator studi yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya menunjukkan bahwa pengemudi yang berada di bawah pengaruh alkohol cenderung meremehkan betapa buruknya jika keterampilan mereka terganggu. Mereka menyetir dengan lebih cepat dan mengambil lebih banyak risiko. Sebaliknya, studi ini menunjukkan bahwa pengemudi yang berada di bawah pengaruh ganja cenderung menghindari risiko. Namun, Rees dan Anderson memperingatkan bahwa legalisasi ganja medis dapat mengakibatkan kematian lalu lintas yang lebih sedikit karena biasanya digunakan secara pribadi, sementara alkohol sering dikonsumsi di bar dan restoran.
“Saya pikir ini merupakan studi yang sangat tepat mengingat semua hukum ganja medis sedang disahkan atau dipertimbangkan,” kata Anderson. “Kebijakan-kebijakan ini belum berbasis riset, dan penelitian kami sejauh ini menunjukkan beberapa efek sosial dari hukum-hukum ini. Hasil studi kami menunjukkan adanya hubungan langsung antara ganja dan konsumsi alkohol.”
Penelitian ini juga meneliti penggunaan ganja di tiga negara bagian yang melegalkan ganja medis di pertengahan tahun 2000-an, Montana, Rhode Island, dan Vermont. Ganja yang digunakan oleh orang dewasa mengalami peningkatan setelah dilegalisasi di Montana dan Rhode Island, namun tidak di Vermont. Tidak ada bukti bahwa ganja yang digunakan oleh anak di bawah umur mengalami peningkatan.
Penentang ganja medis menyakini legalisasi itu bisa mengarah pada peningkatan penggunaan ganja oleh anak di bawah umur.
Menurut Rees dan Anderson, mayoritas pasien yang terdaftar boleh menggunakan ganja medis di Arizona dan Colorado adalah pria. Di Arizona, 75 persen pasien yang terdaftar adalah pria; di Colorado, 68 persen adalah pria. Banyak di bawah usia 40 tahun. Sebagai contoh, 48 persen pasien yang terdaftar di Montana berusia di bawah usia 40 tahun.
“Meskipun kami tidak membuat rekomendasi kebijakan, tentu tampaknya hukum ganja medis membuat jalan raya kita menjadi lebih lebih aman,” kata Rees.

Ledakan Sinar-Gamma Menyingkap Susunan Kimiawi Yang Tak Terduga Pada Galaksi-Galaksi Awal

0 komentar
Pengamatan baru yang mengejutkan ini mengungkapkan bahwa beberapa galaksi tersebut sudah sangat dilimpahi dengan elemen berat kurang dari dua miliar tahun setelah Big Bang.

Tim astronom internasional menggunakan cahaya singkat yang cemerlang dari ledakan sinar-gamma sebagai penerang untuk mempelajari susunan galaksi yang sangat jauh. Yang mengejutkan, observasi yang menggunakan Very Large Telescope milik ESO ini, mengungkapkan bahwa dua galaksi di alam semesta awal ternyata dilimpahi dengan elemen-elemen kimiawi yang lebih berat dari Matahari. Kedua galaksi itu mungkin sedang dalam proses penggabungan. Peristiwa seperti itu di alam semesta awal akan mendorong pembentukan bintang-bintang baru dan mungkin menjadi pemicu ledakan sinar-gamma.
Ledakan sinar-gamma adalah ledakan yang paling terang di alam semesta. Pertama kali ditemukan oleh observatorium orbital yang mendeteksi ledakan pendek sinar-gamma awal. Setelah posisinya menempati taret, ledakan ini kemudian segera dipelajari dengan menggunakan teleskop besar berbasis darat yang dapat mendeteksi sisa kilauan cahaya dan infra merah, yang memancarkan semburan selama berjam-jam hingga berhari-hari.
Salah satunya yang meledak, yang disebut GRB 090323, pertama kali ditemukan oleh Teleskop Fermi Gamma-ray Space milik NASA. Segera setelah ditangkap oleh detektor sinar-X pada satelit Swift NASA dan dengan sistem Grond pada teleskop MPG/ESO 2,2 meter di Chili, kemudian dipelajari secara rinci dengan menggunakan Very Large Telescope (VLT) milik ESO, hanya satu hari setelah ledakan itu terjadi.
Pengamatan VLT menunjukkan bahwa cahaya cemerlang dari ledakan sinar-gamma telah melewati galaksi inangnya sendiri dan galaksi lain di dekatnya. Galaksi-galaksi ini terlihat sebagaimana berada di masa sekitar 12 miliar tahun yang lalu. Galaksi-galaksi jauh tersebut sangat jarang terjebak dalam kilauan ledakan sinar-gamma.
Gambar hasil impresi artis ini menunjukkan dua galaksi di alam semesta awal. Ledakan brilian di sebelah kiri adalah ledakan sinar-gamma. Sebagaimana cahaya ledakan melewati dua galaksi dalam perjalanannya ke Bumi (di luar frame ke kanan) beberapa warna yang diserap oleh gas dingin di galaksi, meninggalkan karakteristik garis-garis gelap dalam spektrum. Studi yang cermat pada spektrum ini telah memungkinkan para astronom untuk menemukan bahwa kedua galaksi ini sangat kaya akan unsur kimia yang lebih berat. (Kredit: ESO/L. Calçada)
“Saat kami mempelajari cahaya dari ledakan sinar-gamma itu kami tidak tahu apa yang mungkin akan kami temukan. Sungguh mengejutkan bahwa gas dingin pada kedua galaksi di alam semesta awal terbukti memiliki susunan bahan kimia yang tak terduga.” jelas Sandra Savaglio (dari Institut Max-Planck untuk Extraterrestrial Fisika, Garching, Jerman), penulis utama makalah. “Galaksi-galaksi itu mengandung elemen-elemen yang lebih berat daripada yang pernah terlihat pada sebuah galaksi yang sangat awal dalam evolusi alam semesta. Kami tidak menduga alam semesta menjadi sedemikian matang, sedemikian berevolusi secara kimiawi, sedemikian awal.”
Saat cahaya ledakan sinar-gamma melewati galaksi, gasnya bertindak seperti saringan, dan menyerap sebagian cahaya ledakan sinar-gamma pada panjang gelombang tertentu. Tanpa ledakan sinar-gamma, galaksi ini akan terlihat samar. Dengan hati-hati menganalisis sidik jari unsur-unsur kimiawinya yang berbeda, tim riset mampu mengetahui komposisi gas dingin dalam galaksi-galaksi yang sangat jauh itu, khususnya bagaimana galaksi-galaksi itu dilimpahi dengan elemen-elemen berat.
Dugaan sebelumnya menyebutkan bahwa galaksi-galaksi di alam semesta muda hanya mengandung sejumlah kecil elemen-elemen berat dibandingkan galaksi-galaksi pada saat ini. Elemen-elemen berat yang dihasilkan selama kehidupan dan kematian generasi-generasi bintang, secara bertahap memperkaya gas di galaksi. Para astronom dapat menggunakan kelimpahan kimiawi dalam galaksi-galaksi untuk menunjukkan seberapa jauh mereka melalui kehidupan mereka. Namun pengamatan baru yang mengejutkan ini mengungkapkan bahwa beberapa galaksi tersebut sudah sangat dilimpahi dengan elemen berat kurang dari dua miliar tahun setelah Big Bang. Sesuatu yang tak terpikirkan hingga saat ini.
Pasangan galaksi muda yang baru ditemukan ini pastilah membentuk bintang-bintang baru pada tingkat yang luar biasa, untuk memperkaya gas dingin dengan sedemikian kuat dan cepat. Karena kedua galaksi itu saling mendekat satu sama lain, mereka mungkin dalam proses penggabungan, yang juga akan memicu pembentukan bintang ketika awan gas saling bertabrakan. Hasil baru ini juga mendukung gagasan bahwa ledakan sinar gamma dapat berhubungan dengan pembentukan bintang masif yang kuat.
Pembentukan bintang energik di galaksi seperti ini mungkin sudah berhenti pada awal sejarah alam semesta. Dua belas miliar tahun kemudian, pada saat ini, sisa-sisa galaksi tersebut akan berisi sejumlah besar sisa-sisa bintang seperti lubang hitam dan bintang kerdil dingin, membentuk populasi “galaksi mati” yang sulit untuk dideteksi, yang hanya berupa bayangan samar-samar. Menemukan mayat seperti itu pada masa sekarang akan menjadi sebuah tantangan.
“Kami sangat beruntung dapat mengamati GRB 090323 saat ledakan itu masih cukup terang, sehingga adalah mungkin untuk memperoleh pengamatan spektakuler secara rinci dengan VLT. Ledakan sinar-gamma menunjukkan terangnya hanya dalam waktu yang sangat singkat, dan untuk memperoleh kualitas datanya yang baik sangatlah sulit. Kami berharap bisa mengamati galaksi-galaksi ini lagi di masa depan saat kita memiliki instrumen yang jauh lebih sensitif, mereka akan menjadi target yang sempurna untuk E-ELT,” kata Savaglio.

Pendekatan 'Diagonal' Untuk Mendaur Ulang Karbon Dioksida

0 komentar
"Variasi mitra reaksinya harus memungkinkan kita membuat seluruh rangkaian senyawa kimia yang biasanya diperoleh dari bahan baku petrokimia."

Karbon dioksida merupakan hasil dari produksi energi, namun haruskah selalu dianggap sebagai produk limbah? Gas ini bisa menjadi sumber daya terbarukan yang berguna dan menjadi agen kimiawi yang ramah lingkungan. Jika kita benar-benar bisa menggunakannya, ini tidak saja akan mengurangi emisi karbon dioksida ke atmosfer, tapi juga mengurangi ketergantungan kita pada petrokimia, yang pada akhirnya akan mulai habis.
Dalam jurnal Angewandte Chemie, para ilmuwan Perancis yang bekerja dengan Thibault CANTAT dari Institut Rayonnement Matière de Saclay, Gif-sur-Yvette, kini telah memperkenalkan pendekatan baru untuk konversi karbon dioksida menjadi blok bangunan yang bisa digunakan untuk sintesis kimia sekaligus menjadi bahan bakar baru.
“Karbon dioksida adalah blok bangunan berlimpah C1 yang tidak beracun,” kata CANTAT. “Hanya sedikit proses yang menggunakan bahan awal ini untuk dikembangkan, karena karbon dioksida merupakan molekul sangat stabil yang tidak dapat dengan mudah dibuat untuk bereaksi.”
Untuk saat ini, ada dua pendekatan yang berbeda dalam penggunaan karbon dioksida. Menurut CANTAT, “Dalam pendekatan ‘vertikal’, karbon dioksida dikurangi, yang artinya keadaan oksidasi atom karbon dikurangi dengan penggantian formal oksigen dengan hidrogen. Hal ini menyebabkan molekul menjadi seperti metanol atau asam formiat, yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar. “Produk ini memiliki kandungan energi yang lebih tinggi daripada karbon dioksida, namun hanya sedikit bahan kimia yang dapat diproduksi dengan cara ini.
“Dalam pendekatan ‘horisontal’, atom karbon difungsikan, yang artinya atom ini membentuk ikatan baru pada oksigen, nitrogen, atau atom karbon lainnya,” lanjut CANTAT. “Keadaan oksidasinya tetap sama, kandungan energinya tidak meningkat.” Ini tidak menghasilkan bahan bakar, namun bahan kimianya merupakan blok bangunan yang berguna untuk sintesis kimia, seperti urea.
Tim riset Perancis dengan demikian mencoba pendekatan kompromi, kombinasi kedua metode tersebut untuk membuat pendekatan “diagonal”. Dengan metode ini, karbon dioksida dikurangi sekaligus difungsikan dalam satu langkah. Hal ini memungkinkan sintesis sejumlah bahan kimia yang jauh lebih besar, langsung dari CO2.
Reaksi ini membutuhkan tiga hal: sebuah agen pereduksian (misalnya silan), suatu molekul organik yang menjadi terikat pada atom karbon dari karbon dioksida (misalnya amina), dan katalis khusus yang mengkatalisis baik pengurangan maupun fungsionalisasian. Katalis yang sukses adalah basa organik khusus yang terdiri dari sistem cincin yang mengandung nitrogen.
“Variasi mitra reaksinya harus memungkinkan kita membuat seluruh rangkaian senyawa kimia yang biasanya diperoleh dari bahan baku petrokimia,” kata CANTAT, “misalnya, formamida derivatif, yang merupakan intermediasi penting bagi industri farmasi dan kimia.”

Plasma Terionisasi Bisa Menjadi Bahan Sterilisasi Yang Ampuh Dan Murah Meriah

0 komentar
Debit plasma telah digunakan sejak tahun 1800-an untuk menghasilkan ozon sebagai pemurni air, dan beberapa rumah sakit menggunakan plasma bertekanan rendah sebagai penghasil hidrogen peroksida untuk dekontaminasi instrumen bedah.

Para ilmuwan University of California, Berkeley,telah menunjukkan bahwa plasma terionisasi, seperti yang ada pada lampu neon dan TV plasma, tidak hanya dapat mensterilkan air, tapi juga bisa menjadi antimikroba – mampu membunuh bakteri – selama seminggu setelah penggunaan.
Perangkat yang menghasilkan plasma berbilang murah, artinya bisa menjadi penghemat di negara-negara berkembang, kawasan bencana atau di medan perang di mana air steril digunakan untuk keperluan medis – entah itu untuk persalinan maupun operasi besar.
“Kita tahu plasma akan membunuh bakteri dalam air, namun ada begitu banyak kemungkinan aplikasi lain, seperti mensterilkan peralatan medis atau penyembuhan luka,” kata insinyur kimia David Graves. “Kita bisa membuatkan perangkatnya agar bisa digunakan di rumah atau di kawasan terpencil untuk menggantikan antibiotik pemutih atau bedah.”
Plasma bersuhu rendah sebagai disinfektan adalah “sebuah inovasi yang luar biasa dengan potensi yang hebat untuk meningkatkan perawatan kesehatan dalam kawasan berkembang dan yang tertimpa bencana,” kata Phillip Denny, yang membantu pendanaan bagi penelitian Graves dan memiliki misi menangani kebutuhan di seluruh dunia miskin.
“Salah satu masalah yang paling sulit yang berhubungan dengan fasilitas medis di negara bersumber daya rendah adalah kontrol infeksi,” tambah Graves. “Diperkirakan bahwa infeksi di negara-negara ini adalah faktor yang tiga hingga lima kali lipat lebih luas daripada di negara maju.”
Percikan singkat di udara menghasilkan plasma bersuhu rendah terionisasi dan memisahkan oksigen dan nitrogen yang akan berdifusi ke dalam cairan di dekatnya atau kulit, di mana mereka dapat membunuh mikroba, mirip dengan cara beberapa obat dan sel-sel kekebalan tubuh dalam membunuh mikroba dengan menghasilkan bahan kimia reaktif yang sama atau identik. (Kredit: Steve Graves)
Graves dan para koleganya di UC Berkeley mempublikasikan makalah dalam edisi November Journal of Physics D: Applied Physics, melaporkan bahwa air yang diolah dengan plasma pada dasarnya membunuh semua bakteri E. coli dalam waktu beberapa jam dan masih terus membunuh 99,9 persen bakteri tambahan selama tujuh hari. Strain mutan E. coli telah menyebabkan wabah penyakit pencernaan dan bahkan kematian ketika mengkontaminasi daging, keju dan sayuran.
Berdasarkan eksperimen lain, Graves dan rekan-rekannya dari University of Maryland di College Park melaporkan pada tanggal 31 Oktober dalam pertemuan tahunan American Vacuum Society, bahwa plasma juga dapat “membunuh” protein dan lipid yang berbahaya – termasuk prion, agen infeksi yang menyebabkan penyakit sapi gila.
Pada tahun 2009, salah seorang kolaborator Graves dari Institut Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics membangun sebuah perangkat yang mampu secara aman mensterilkan kulit manusia yang terinfeksi dalam hitungan detik, bahkan membunuh bakteri yang resistan terhadap obat.
“Bidang plasma bersuhu rendah adalah booming, dan ini bukan omong kosong. Ini nyata!” kata Graves.
Dalam penelitian yang dipublikasikan bulan ini, Graves bersama rekan-rekannya di UC Berkeley menunjukkan bahwa plasma yang dihasilkan oleh percikan singkat ke udara di samping wadah air mengubah air menjadi kira-kira seasam cuka dan menciptakan campuran yang sangat reaktif, molekul terionisasi – molekul yang telah kehilangan salah satu atau lebih elektron dan dengan demikian sangat bereaksi dengan molekul lainnya. Mereka mengidentifikasi molekul reaktif ini sebagai hidrogen peroksida dan berbagai nitrat dan nitrit, semuanya diketahui sebagai antimikroba. Nitrat dan nitrit telah digunakan selama ribuan tahun untuk memulihkan daging, misalnya.
Bagaimanapun juga, Graves bertanya-tanya saat melihat bahwa air itu masih menjadi antimikroba seminggu kemudian, meskipun konsentrasi peroksida dan nitrit turun menjadi nihil. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa bahan kimia reaktif lainnya – mungkin nitrat – tetap terkandung di dalam air untuk membunuh mikroba, katanya.
Debit plasma telah digunakan sejak tahun 1800-an untuk menghasilkan ozon sebagai pemurni air, dan beberapa rumah sakit menggunakan plasma bertekanan rendah sebagai penghasil hidrogen peroksida untuk dekontaminasi instrumen bedah. Perangkat plasma juga digunakan sebagai instrumen bedah untuk mengangkat jaringan atau darah kental. Namun, hanya baru-baru ini plasma bersuhu rendah digunakan sebagai disinfektan dan untuk terapi medis langsung, kata Graves, yang mulai memfokuskan diri pada aplikasi plasma untuk medis setelah bekerja selama lebih dari 20 tahun pada jenis plasma bersuhu rendah yang digunakan untuk semikonduktor etsa.
“Saya adalah seorang insinyur kimia yang menerapkan fisika dan kimia untuk memahami plasma,” kata Graves. “Ini menarik untuk mulai mencari cara menerapkan plasma dalam kedokteran.”

Bahan Cerdas Baru Dapat Memberi Potensi Medis Dari Cahaya Penembus Jaringan

0 komentar
- Para ilmuan melaporkan pengembangan dan pengujian awal yang sukses pada bahan cerdas praktis pertama yang dapat memasok jalur yang hilang dalam usaha untuk menggunakan sejenis cahaya dalam kedokteran yang dapat menembus sepuluh centimeter ke dalam tubuh manusia.

Adah Almutairi dan koleganya menjelaskan cahaya dekat inframerah (Near Infrared – NIR) yang hanya sedikit di atas yang dapat dilihat manusia menembus ke kulit dan hampir sepuluh sentimeter ke dalam tubuh, dengan potensi besar untuk mendiagnosa dan merawat penyakit. NIR energi rendah tidak merusak jaringan tubuh ketika lewat. Yang hilang adalah bahan yang merespon dengan efektif pada NIR energi rendah. Plastik yang meluruh ketika dihantam NIR, misalnya, dapat diisi dengan obat anti kanker, disuntikkan ke dalam tumor, dan melepaskan obat ketika dihantam oleh NIR. Bahan cerdas responsif NIR saat ini membutuhkan cahaya NIR energi tinggi, yang justru dapat merusak sel dan jaringan. Itu mengapa tim Almutairi mulai meneliti pengembangan polimer cerdas baru yang merespon pada cahaya NIR energi rendah.
 Ketika dihantam dengan NIR energi rendah, bahan baru mereka meluruh menjadi potongan-potongan kecil yang tampaknya tidak beracun bagi jaringan sekitarnya. Pandangan para peneliti misalnya, meletakkan polimer ini dalam hidrogel (bahan fleksibel mengandung air) yang disuntikkan untuk pengiriman obat dan rekayasa jaringan. Sebuah hidrogel dengan polimer baru ini dapat melepaskan obat atau agen pencitraan ketika dihantam NIR. “Setahu kami, ini adalah contoh pertama bahan polimer yang mampu berderai menjadi molekul-molekul kecil ketika merespon iradiasi level rendah yang tidak berbahaya,” kata para peneliti.
 Para peneliti berterima kasih pada dana yang disediakan oleh Penghargaan Inovator Baru Direktur NIH dan Kota Iptek King Abdul Aziz.

Bahan Baru Dapat Meningkatkan Teknologi Energi,Komputer, Dan Penerangan

0 komentar
Para peneliti dari Arizona State University menciptakan bahan kristal senyawa baru yang dapat membantu kemajuan dalam sejumlah pencapaian teknologi dan ilmiah.

 Profesor teknik listrik ASU,   Cun-Zheng Ning mengatakan bahan yang bernama erbium klorida silikat ini, dapat digunakan untuk mengembangkan generasi baru komputer, meningkatkan kemampuan internet, meningkatkan efisiensi sel fotovoltaik berbasis silikon untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik, dan meningkatkan kualitas penerangan keadaan padat dan teknologi sensor.
 Tim peneliti Ning terdiri dari mahasiswa dan pasca doktoral yang membantu mensintesis senyawa baru dalam Lab Nanofotonik Sekolah Teknik Listrik, Komputer, dan Energi ASU, salah satu Sekolah Teknik Ira A. Fulton.
 Penelitian erbium lab ini didukung oleh Kantor Penelitian Angkatan Darat AS dan Kantor Penelitian Ilmiah Angkatan Udara AS. Detail mengenai senyawa baru ini dilaporkan dalam Optical Materials Express di situs Optical Society of America.
Terobosan ini melibatkan sintesis senyawa erbium baru pertama kali dalam bentuk kawat nano kristal tunggal, yang memiliki sifat superior dibandingkan senyawa erbium dalam bentuk lain.
 Erbium adalah salah satu anggota paling penting dalam keluarga bumi langka dalam tabel periodik unsur kimia. Ia memancarkan foton dalam panjang gelombang 1,5 mikron, yang digunakan dalam serat optik untuk kinerja internet dan telepon kualitas tinggi.
Erbium digunakan dalam pengotoran serat optik untuk memperkuat sinyal internet dan telepon dalam sistem telekomunikasi. Pengotoran adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan proses memasukkan konsentrasi tinggi berbagai unsur dalam zat lain sebagai cara mengubah sifat listrik atau optik zat tersebut untuk memberi hasil yang diinginkan. Unsur yang digunakan dalam proses tersebut disebut dopant atau pengotor.
“Karena kita tidak dapat mengotori banyak atom erbium dalam serat semau kita, serat harus sangat panjang agar dapat berguna memperkuat sinyal internet. Ini membuat integrasi komunikasi internet dan komputer dalam sebuah chip sangat sulit,” jelas Ning.
 “Dengan senyawa erbium baru ini, terdapat seribu kali lebih banyak atom erbium tersimpan dalam senyawa. Ini artinya banyak alat dapat diintegrasikan kedalam sistem berskala chip,” katanya. “Karenanya, bahan senyawa baru mengandung erbium dapat diintegrasikan dengan silikon untuk menggabungkan fungsionalitas internet dan komputer pada landasan silikon yang sama dan murah untuk meningkatkan laju komputasi dan operasi internet pada saat bersamaan.”
 Bahan erbium dapat pula dipakai untuk meningkatkan efisiensi konversi energi sel surya silikon.
 Silikon tidak menyerap radiasi surya dengan panjang gelombang lebih dari 1,1 mikron, yang menghasilkan limbah energi – membuat sel surya kurang efisien.
Bahan erbium dapat memperbaiki situasi ini dengan mengubah dua atau lebih foton pembawa jumlah kecil energi menjadi satu foton yang membawa jumlah energi lebih besar. Foton tunggal yang lebih kuat ini kemudian dapat diserap oleh silikon, dan meningkatkan efisiensi sel surya.
 Bahan erbium juga membantu penyerapan sinar ultraviolet dari matahari dan mengubahnya menjadi foton-foton pembawa energi kecil, yang kemudian dapat lebih efisien diubah menjadi listrik oleh sel silikon. Fungsi konversi warna yang mengubah cahaya ultraviolet menjadi cahaya lain yang tampak ini juga penting dalam membangkitkan cahaya putih untuk alat penerangan keadaan padat.
 Sementara manfaat erbium diketahui dengan baik, pembuatan bahan erbium berkualitas tinggi merupakan tantangan besar, kata Ning.
 Pendekatan standar adalah dengan menjadikan erbium sebagai pengotor pada berbagai bahan induk, seperti silikon oksida, silikon, dan banyak kristal dan kaca lainnya.
 “Salah satu masalahnya adalah kita belum mampu memberikan cukup atom erbium ke dalam kristal atau kaca tanpa merusak kualitas optiknya, karena terlalu banyak pengotor dapat menimbulkan gerombolan yang merendahkan mutu optik,” katanya.
 Yang unik pada bahan erbium baru yang disintesis kelompok Ning adalah erbium tidak lagi diberikan secara acak sebagai pengotor. Erbium menjadi bagian dari senyawa seragam dan jumlah atom erbiumnya adalah seribu kali lebih banyak dari jumlah maksimum yang dapat diberikan dalam bahan terkotor erbium lainnya.
 Meningkatkan jumlah atom erbium memberikan aktivitas optik lebih banyak untuk menghasilkan pencahayaan lebih kuat. Ia juga meningkatkan konversi berbagai warna cahaya menjadi cahaya putih untuk menghasilkan penerangan keadaan padat dan memungkinkan sel surya lebih efisien dalam mengubah sinar matahari menjadi energi listrik.
 Selain itu, karena atom erbium terorganisir dalam array yang periodik, mereka tidak menggerombol dalam senyawa baru ini. Faktanya bahan ini telah menghasilkan bentuk kristal tunggal bermutu tinggi yang membuat kualitas optiknya superior dibandingkan bahan yang dikotori lainnya, kata Ning.
 Seperti banyak penemuan ilmiah, sintesis bahan erbium baru ini dibuat secara tak sengaja.
 “Sama dengan apa yang dilakukan peneliti lainnya, kami pada awalnya mencoba mengotori erbium ke dalam serat nano silikon. Namun karakteristik yang ditunjukkan bahan ini mengejutkan kami,” katanya. “Kami memperoleh bahan baru. Kami tidak tahu apa itu, dan tidak ada dokumen ilmiah yang menjelaskannya. Perlu setahun bagi kami untuk menyadari kalau kami menemukan bahan kristal tunggal baru yang belum pernah ada sebelumnya.”
 Ning dan timnya kini mencoba menggunakan senyawa erbium baru ini untuk berbagai aplikasi, seperti peningkatan efisiensi sel surya silikon dan membuat penguat optik miniatur untuk sistem fotonik skala chip untuk komputer dan internet kecepatan tinggi.
 “Yang paling penting,” katanya, “ada banyak hal yang kami harus pelajari mengenai apa yang dapat dicapai oleh bahan baru ini. Studi awal kami pada karakteristiknya menunjukkan kalau ia punya banyak sifat mengagumkan dan kualitas optik yang superior. Penemuan lain yang lebih mengagumkan sedang menunggu untuk dibuat.”

Lubang Tetutup Dapat Memperkuat Bukannya Menghentikan Cahaya Lewat

0 komentar
Kepercayaan umum akan mengatakan kalau menutupi sebuah lubang akan mencegah cahaya menembusnya, namun para insinyur Universitas Princeton menemukan kalau sebaliknya benar.

Sebuah tim peneliti menemukan kalau meletakkan sebuah tutup logam dalam lubang kecil di film logam tidak menghentikan cahaya sama sekali, malah memperkuat transmisinya. Dalam sebuah contoh rekayasa fisika yang aneh yang dapat terjadi pada skala sangat kecil, insinyur listrik Stephen Chou dan koleganya membuat array lubang kecil dalam sebuah film logam tipis, lalu memblokir setiap lubang dengan tutup logam gelap. Ketika mereka mengirim cahaya ke lubang-lubang tersebut, mereka menemukan kalau 70 persen lebih banyak cahaya muncul ketika lubang diblokir ketimbang dibuka.
 “Keyakinan umum dalam optika adalah bila anda memiliki film logam dengan lubang sangat kecil dan anda menutup lubang dengan logam, transmisi cahaya akan terblokir sepenuhnya,” kata Chou, profesor teknik. “Kami sangat terkejut.”
 Chou mengatakan hasil ini dapat memiliki implikasi dan manfaat signifikan. Pertama, ia dapat membuat para ilmuan dan insinyur berpikir ulang tentang teknik yang telah mereka pakai ketika mereka ingin memblokir semua transmisi cahaya. Dalam instrumen optik sangat sensitif, seperti mikroskop, teleskop, spektrometer, dan detektor optik lainnya, misalnya, biasanya film logam dilapisi kedalam gelas untuk memblokir cahaya. Partikel debu, yang tidak dapat dihindari dalam pengendapan film logam, menciptakan lubang kecil dalam film logam, namun lubang ini diasumsikan tidak berbahaya karena partikel debu menjadi tertutup dan diselubungi logam, yang diduga memblokir cahaya sepenuhnya.
 “Asumsi ini salah – sumbat tidak menghentikan kebocoran namun malah memperkuatnya,” kata Chou.
Beliau menjelaskan kalau dalam bidangnya yaitu nanoteknologi, cahaya sering digunakan dalam teknik yang disebut fotolitografi untuk mengukir pola ultrakecil dalam silikon atau bahan lainnya. Pola film logam tipis pada lempeng gelas berperan sebagai topeng, mengarahkan cahaya melewati lokasi tertentu di lempeng dan memblokir daerah lain. Dengan penemuan ini, insinyur harus memeriksa apakah topeng tersebut memblokir cahaya seperti yang diharapkan, kata Chou.
 Sebaliknya, Chou berkata, penemuan teknik pemblokiran baru ini dapat digunakan di situasi ketika sebuah letupan transmisi cahaya dibutuhkan. Dalam mikroskopi medan dekat misalnya, para ilmuan melihat sangat detail dengan melewatkan cahaya menembus sebuah lubang dengan ukuran diameter sepermiliar meter. Dengan teknik baru ini, jumlah cahaya yang melewati lubang – dan karenanya jumlah informasi mengenai benda yang dilihat – dapat ditingkatkan dengan memblokir lubangnya.
Chou dan koleganya tertarik pada fenomena penguatan transmisi cahaya lewat lubang tertutup dalam penelitian mereka dalam mengembangkan detektor ultrasensitif yang mengindera kimiawi dalam jumlah kecil, yang digunakan untuk diagnosa medis hingga deteksi bahan peledak. Detektor ini menggunakan film logam tipis dengan array lubang dan cakram logam untuk memperkuat sinyal lemah yang dihasilkan ketika berkas laser menemukan sebuah molekul, memungkinkan sensitivitas yang jauh lebih besar dalam mendeteksi zat.
 Dalam salah satu detektor eksperimental mereka, para peneliti mempelajari transmisi cahaya lewat array lubang kecil yang diameternya 60 nanometer (sepermiliar meter) dan terpisah 200 nanometer dalam sebuah film emas yang tebalnya 40 nanometer. Tiap lubang kecil ditutup dengan sebuah cakram emas yang 40 persen lebih besar dari lubang. Cakram berada di puncak lubang dengan sedikit celah antara permukaan logam dan cakram.
 Para peneliti mengarahkan laser ke bagian bawah film dan menguji apakah ada cahaya laser yang menembus logam, melewati sungkup, dan dapat dideteksi di sisi lain. Mengejutkannya, mereka menemukan kalau transmisi cahaya total justru 70 persen lebih tinggi ketika lubang diblokir dengan cakram logam ketimbang tidak diblokir. Para peneliti mengulang eksperimen yang sama dengan menyinari cahaya dari arah berlawanan – mengarah ke sisi sungkup dan melihat cahaya yang ditransmisikan di bawah film – dan menemukan hasil yang sama.
 “Kami tidak menduga lebih banyak cahaya yang akan datang,” kata Chou. “Kami menduga logam itu memblokir cahaya sepenuhnya.”
 Chou mengatakan kalau cakram logam bertindak sebagai “antena” yang mengambil dan meradiasikan gelombang elektromagnetik. Dalam kasus ini, cakram logam mengambil cahaya dari satu sisi lubang dan meradiasikannya ke sisi lain. Gelombang berjalan sepanjang permukaan logam dan melompat dari lubang ke sungkup, atau sebaliknya tergantung dari arah mana cahaya datang. Tim peneliti Chou melanjutkan penyelidikan efek ini dan bagaimana ia dapat diterapkan untuk meningkatkan kinerja detektor ultrasensitif.
 Para peneliti menerbitkan penemuan mereka tanggal 7 oktober di jurnal  Optics Express, dan segera menjadi makalah paling banyak diunduh. Selain Chou, tim memuat mahasiswa pasca sarjana   Wen-Di Li dan peneliti pasca doktoral Jonathan Hu dari jurusan teknik listrik. Karya ini disponsori sebagian oleh Dewan Penelitian Lanjut Pertahanan dan Yayasan Sains Nasional

Robot Pembuang Bom Siap Untuk Aksi Garis Depan

0 komentar
Universitas Greenwich telah bergabung dengan sebuah perusahaan berbasis Kent dalam perancangan dan pembuatan sebuah robot pembuang bom untuk digunakan oleh petugas keamanan, termasuk angkatan bersenjata Inggris.

Organisasi tersebut telah bekerjasama menciptakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh yang ringan atau robot, yang dapat dikendalikan oleh perangkat nirkabel, seperti konsol game, dari jarak beberapa ratus meter.
 Robot inovatif ini, yang dapat mendaki tangga dan bahkan membuka pintu, akan digunakan oleh para perwira dalam misi pembuangan bom di Negara-negara seperti Afghanistan.
 Para pakar dari Jurusan Teknik Komputer dan Komunikasi, berbasis di Sekolah Teknik Universitas tersebut, bekerja pada proyek bersama   NIC Instruments Limited dari Folkestone, pabrik peralatan pembuangan bom dan pencarian keamanan.
Jauh lebih ringan dan lebih fleksibel daripada unit pembuang bom tradisional, robot ini lebih mudah dibawa oleh prajurit dan lebih mudah pula digunakan di medan. Ia memiliki kamera, yang merelay citra ke operatornya lewat control tangan, dan mencakup pemegang yang dapat membawa dan memanipulasi benda-benda.
 Robot ini juga memiliki sensor-sensor senjata nuklir, biologis, dan kimia.
Berukuran hanya 72 cm kali 35 cm, robot ini beratnya 48 kilogram dan dapat bergerak pada laju hingga 13 km per jam.

Masa Lalu Bumi Memberi Petunjuk Perubahan-Perubahan

0 komentar
"Model yang kami kembangkan menjelaskan waktu pembentukan Andes dan fitur unik seperti kelengkungan rantai gunung."

Para ilmuwan selangkah lebih dekat untuk bisa memprediksi kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi setelah berfokus pada pembentukan Andes, yang dimulai 45 juta tahun yang lalu.
Dipublikasikan dalam jurnal Nature, penelitian yang dipimpin oleh Dr. Fabio Capitanio dari Sekolah Ilmu Bumi Universitas Monash ini menggambarkan pendekatan baru tentang lempeng tektonik. Ini adalah model pertama untuk melampaui penggambaran bagaimana lempeng bergerak, dan menjelaskan mengapa itu terjadi.
Dr. Capitanio mengatakan bahwa meskipun teori ini telah diterapkan hanya pada satu batas lempeng sejauh ini, namun ini adalah aplikasi yang lebih luas.
Dengan memahami kekuatan gerakan lempeng tektonik akan memungkinkan para peneliti memprediksi pergeseran dan konsekuensinya, termasuk pembentukan pegunungan, pembukaan dan penutupan lautan, serta gempa bumi.
Dr. Capitanio mengatakan bahwa teori yang ada tentang lempeng tektonik telah gagal menjelaskan beberapa fitur pengembangan rantai gunung terpanjang di dunia berbasis daratan, dan memotivasi dia untuk mengambil pendekatan yang berbeda.
“Kami tahu bahwa Andes dihasilkan dari subduksi satu lempengan, di bawah yang lainnya, namun banyak hal yang tidak dapat dijelaskan. Sebagai contoh, subduksi dimulai 125 juta tahun yang lalu, tapi pegunungan hanya mulai terbentuk 45 juta tahun yang lalu. Ketertinggalan inilah yang tidak dipahami,” kata Dr. Capitanio.
“Model yang kami kembangkan menjelaskan waktu pembentukan Andes dan fitur unik seperti kelengkungan rantai gunung.”
Dr. Capitanio mengatakan bahwa pendekatan tradisional terhadap lempeng tektonik, yang bekerja pada data, menghasilkan model dengan deskriptif yang kuat, tetapi tidak ada kekuatan prediktif.
“Model yang ada memungkinkan Anda menggambarkan pergerakan lempeng seperti yang terjadi, tetapi Anda tidak bisa mengatakan kapan pergerakan itu akan berhenti, atau apakah mereka akan mempercepat, dan sebagainya.
“Saya mengembangkan model fisika tiga-dimensi – saya menggunakan fisika untuk memprediksi perilaku lempeng tektonik. Kemudian, saya menerapkan data yang melacak Andes kembali hingga ke 60 juta tahun yang lalu. Ini begitu sesuai.”
Kolaborator pada proyek ini adalah Dr. Claudio Faccenna dari Universita Roma Tre, Dr. Sergio Zlotnik dari UPC-Barcelona Tech, dan Dr. David R Stegman dari University of California San Diego. Para peneliti akan terus mengembangkan model ini dengan menerapkannya pada zona-zona subduksi lainnya.

Mengatur Panggung Untuk kehidupan : Ilmuwan Membuat Penemuan Penting Tentang Atmosfer Di Bumi Awal

0 komentar
Kalibrasi mengungkapkan atmosfer dengan keadaan oksidasi yang lebih dekat dengan kondisi-kondisi saat ini. Temuan ini memberi titik awal yang penting bagi penelitian di masa depan tentang asal usul kehidupan di bumi.

Para ilmuwan di New York Center for Astrobiology di Rensselaer Polytechnic Institute telah menggunakan mineral tertua di bumi untuk merekonstruksi kondisi atmosfer yang hadir di bumi segera setelah kelahirannya. Penemuan ini, yang muncul dalam jurnal Nature edisi 1 Desember, merupakan bukti langsung pertama tentang rupa atmosfer purba planet ini segera setelah pembentukannya dan secara langsung menantang penelitian bertahun-tahun pada jenis atmosfer yang memunculkan kehidupan di planet ini.
Para ilmuwan menunjukkan bahwa atmosfer bumi, hanya 500 juta tahun setelah penciptaannya, bukanlah lahan penuh metana seperti yang diusulkan sebelumnya, tapi justru lebih dekat dengan kondisi atmosfer kita saat ini. Temuan ini berimplikasi bagi pemahaman kita tentang bagaimana dan kapan kehidupan dimulai di planet ini dan bisa mulai terjadi pula di tempat lain di alam semesta.
Selama beberapa dekade, para ilmuwan meyakini bahwa atmosfer awal di bumi sangat kekurangan oksigen. Kondisi oksigen yang buruk mengakibatkan atmosfer penuh dengan metana yang berbahaya, karbon monoksida, hidrogen sulfida, dan amonia. Untuk saat ini, masih terdapat teori dan studi, yang secara luas dipegang, tentang bagaimana kehidupan di bumi mungkin telah dibangun dari campuran kandungan atmosfer yang mematikan ini.
Kini, para ilmuwan di Rensselaer mengubah asumsi-asumsi ini dengan temuan yang membuktikan bahwa kondisi-kondisi pada bumi awal tidak hanya kondusif untuk pembentukan jenis atmosfer, namun lebih dari itu, atmosfer pun didominasi senyawa-senyawa kaya oksigen yang juga ditemukan dalam atmosfer kita saat ini – termasuk air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.
“Kami kini dapat mengatakan dengan pasti bahwa banyak ilmuwan yang mempelajari asal usul kehidupan di bumi menentukan atmosfer yang salah,” kata Profesor Bruce Watson.
Temuan ini sisanya mengikuti teori bahwa atmosfer bumi dibentuk oleh gas yang dilepaskan dari aktivitas vulkanik pada permukaannya. Saat ini, seperti pada hari-hari awal di bumi, magma yang mengalir dari dalam bumi mengandung larutan gas-gas. Ketika magma mendekati permukaan, gas-gas itu dilepaskan ke udara di sekitarnya.
“Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa pelepasan gas dari magma ini merupakan input utama bagi atmosfer,” kata Watson. “Untuk memahami sifat atmosfer ‘pada permulaan’, kita perlu menentukan jenis gas apa yang yang dipasok magma ke atmosfer.”
Sebagaimana magma mendekati permukaan bumi, baik lewat letusan maupun lewat kerak, ia lalu berinteraksi dengan bebatuan di sekitarnya, mendingin, dan mengkristal menjadi batu padat. Magma beku ini beserta unsur-unsur yang dikandungnya dapat menjadi tonggak literal dalam sejarah bumi.
Salah satu tonggaknya yang penting adalah zircon. Tidak seperti bahan lain yang dihancurkan dari waktu ke waktu oleh erosi dan subduksi, zircon tertentu sama tuanya dengan bumi itu sendiri. Dengan demikian, zircon benar-benar dapat menceritakan seluruh sejarah planet ini – jika Anda tahu pertanyaan apa yang tepat untuk diajukan.
Para ilmuwan berupaya menentukan tingkat oksidasi magma yang membentuk zircon purba ini untuk mengukur bagaimana oksidasi adalah gas yang dirilis dalam awal sejarah bumi. Dengan memahami tingkat oksidasi ini maka kita bisa mengeja perbedaan antara gas rawa dan campuran uap air serta karbon dioksida, yang begitu biasa bagi kita saat ini, demikian menurut penulis utama studi, Dustin Trail, seorang peneliti pascadoktoral di Center for Astrobiology.
“Dengan menentukan keadaan oksidasi dari magma yang menciptakan zircon ini, maka kita kemudian dapat menentukan jenis gas yang akhirnya membuat jalannya ke atmosfer,” kata Trail.
Untuk melakukan hal ini, Trail, Watson, dan rekan mereka, peneliti pascadoktoral Nicholas Tailby, menciptakan ulang pembentukan zircon di laboratorium pada tingkat oksidasi yang berbeda. Secara literal, mereka membuat lava di laboratorium. Prosedur ini mengarah pada penciptaan sebuah pengukur oksidasi yang kemudian dapat dibandingkan dengan zircon alami.
Selama proses ini, mereka mencari konsentrasi logam bumi langka, yang disebut cerium, dalam zircon. Cerium adalah pengukur oksidasi yang penting karena dapat ditemukan di dua keadaan oksidasi, dengan lebih teroksidasi lagi daripada yang lain. Semakin tinggi konsentrasi tipe cerium yang lebih teroksidasi di dalam zircon, maka semakin teroksidasi atmosfer setelah pembentukannya.
Kalibrasi mengungkapkan atmosfer dengan keadaan oksidasi yang lebih dekat dengan kondisi-kondisi saat ini. Temuan ini memberi titik awal yang penting bagi penelitian di masa depan tentang asal usul kehidupan di bumi.
“Planet kita adalah panggung di mana semua kehidupan telah dimainkan,” kata Watson. “Kita bahkan tidak bisa mulai berbicara tentang kehidupan di bumi sampai kita tahu panggung seperti apakah itu. Dan kondisi oksigen adalah sangat penting karena mempengaruhi jenis molekul organik yang dapat dibentuk.”
Metana dan kurangnya oksigen memang memiliki potensi biologis yang lebih banyak untuk melompat dari senyawa anorganik menjadi pendukung kehidupan, asam amino dan DNA. Dengan demikian, Watson berpikir penemuan ini dapat menghidupkan kembali teori-teori bahwa mungkin blok-blok bangunan untuk kehidupan itu tidak diciptakan di bumi, melainkan dihantarkan dari tempat lain di galaksi.
Bagaimanapun juga, hasil studi ini tidak bertentangan dengan teori yang sudah ada tentang perjalanan hidup organisme anaerobik ke aerobik. Hasil studi ini mengukur sifat molekul gas yang mengandung karbon, hidrogen, dan belerang di atmosfer awal, namun tidak menjelaskan mengenai peningkatan oksigen bebas di udara. Masih ada sejumlah besar waktu untuk oksigen terbangun di atmosfer melalui mekanisme biologis, kata Trail.

Lapisan Es Yang Mencair Menjadi Ancaman Besar Bagi Iklim

0 komentar
"Survei kami menguraikan risiko tambahan bagi masyarakat yang disebabkan oleh pencairan Utara beku serta perlunya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan penggundulan hutan."

Seiring memanasnya Kutub Utara, gas rumah kaca yang dilepaskan dari pencairan lapisan es menjadi lebih cepat dan pada tingkat signifikan yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, demikian menurut hasil survei dari 41 ilmuwan internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Nature edisi 30 November.
Pencairan es akan merilis jumlah karbon yang sama seperti yang dilepaskan akibat penggundulan hutan, kata penulis, namun dampaknya pada iklim akan 2,5 kali lipat lebih besar karena emisinya meliputi metana, yang berdampak lebih besar terhadap pemanasan dibandingkan karbon dioksida.
Survei, yang dipimpin peneliti University of Florida, Edward Schuur, dan mahasiswa pascasarjana University of Alaska, Fairbanks Benyamin Abbott, menanyakan pada para ahli iklim tentang berapa persen permukaan lapisan es yang cenderung mencair, berapa banyak karbon yang akan dirilis dan berapa banyak karbon yang akan menjadi metana. Para penulis memperkirakan bahwa jumlah karbon yang dilepaskan pada tahun 2100 akan menjadi 1,7 hingga 5,2 kali lipat lebih besar dibandingkan yang dilaporkan dalam studi pemodelan baru-baru ini, yang menggunakan skenario pemanasan serupa.
“Perkiraannya menjadi lebih besar karena meliputi pula proses yang terlewatkan dari model saat ini serta perkiraan baru dari jumlah karbon organik yang tersimpan jauh di dalam tanah beku,” kata Abbott. “Ada karbon organik yang lebih banyak di tanah utara daripada yang ada pada semua makhluk hidup yang dikombinasikan; itu agak membingungkan pikiran.”
Tanah utara memendam sekitar 1.700 miliar gigaton karbon organik, sekitar empat kali lebih banyak dari semua karbon yang dipancarkan oleh aktivitas manusia modern dan dua kali lebih banyak dari yang ada saat ini di atmosfer, demikian menurut perkiraan terbaru. Saat lapisan es mencair, bahan organik dalam tanah terurai dan melepaskan gas seperti metana dan karbon dioksida.
“Dalam sebagian besar bahan organik ekosistem biasanya hanya terkonsentrasi di kisaran meter paling atas tanah, namun ketika tanah Kutub Utara membeku dan mencair, karbon dapat mengerjakan jalannya hingga bermeter-meter ke bawah, kata Abbott, yang mempelajari bagaimana karbon dilepaskan dari lanskap yang runtuh, atau disebut thermokarst – sebuah proses yang tidak diperhitungkan dalam model saat ini. Hingga saat ini kedalaman karbon tidak termasuk dalam inventori tanah dan masih belum diperhitungkan dalam model iklim.
Ben Abbott, mahasiswa pascasarjana, kanan, dan Jay Jones, profesor biologi, keduanya dari Institut Biologi Arktik di Universitas Alaska Fairbanks, mengumpulkan inti-inti tanah dan pengukuran aliran gas dari lanskap utara Toolik Field Station IAB di Lereng Utara di mana lapisan es telah mencair dan datarannya runtuh - disebut sebagai thermokarst. (Kredit: Marie Gilbert/IAB)
“Kami tahu tentang banyak proses yang akan mempengaruhi nasib karbon Kutub Utara, namun kami belum tahu bagaimana memasukkan proses-proses ini ke dalam model iklim,” kata Abbott. “Kami berharap untuk mengidentifikasi beberapa proses dan membantu berbagai model mengejar ketinggalannya.”
Kebanyakan model skala besar mengasumsikan bahwa pemanasan lapisan es tergantung pada seberapa banyak udara di atas lapisan es mengalami pemanasan. Yang hilang dari model adalah proses seperti efek mendadak pencairan yang dapat mencairkan irisan es, mengakibatkan daratan runtuh dan mempercepat pencairan tambahan.
“Survei ini adalah bagian dari proses ilmiah, yang kami pikir akan terjadi di masa depan, dan kami datang dengan hipotesis teruji untuk penelitian di masa depan,” kata Schurr. “Survei kami menguraikan risiko tambahan bagi masyarakat yang disebabkan oleh pencairan Utara beku serta perlunya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan penggundulan hutan.”
Dengan mengintegrasikan data dari model sebelumnya dengan prediksi para ahli, penulis berharap untuk memberikan kerangka acuan bagi para ilmuwan dalam mempelajari semua aspek dari perubahan iklim.
“Pelepasan karbon lapisan es tidak akan menutupi emisi bahan bakar fosil sebagai pendorong utama perubahan iklim” kata Schuur, “namun merupakan penguat penting terhadap perubahan iklim.”

Inti Bumi Kekurangan Oksigen

0 komentar
Komposisi inti Bumi masih menjadi misteri. Para ilmuan tahu kalau inti luar cair terdiri umumnya dari besi, namun diyakini kalau sejumlah kecil unsur lain hadir. Oksigen adalah unsure paling melimpah di planet ini, jadi cukup beralasan kalau kita mengira oksigen juga merupakan unsur ringan dominan di inti.

Walau begitu, penelitian terbaru dari sebuah tim mencakup  Yingwei Fei dari Carnegie menunjukkan kalau oksigen jumlahnya tidak banyak di inti luar. Penemuan ini berimplikasi besar pada pemahaman kita mengenai periode saat Bumi terbentuk lewat pengumpulan debu dan gumpalan materi. Penelitian mereka diterbitkan tanggal 24 November 2011 di jurnal Nature.
Menurut model sekarang, selain sejumlah besar besi, inti luar cair Bumi mengandung sejumlah kecil unsur ringan, mungkin belerang, oksigen, silikon, karbon, atau hidrogen. Dalam penelitian ini, Fei, dari Laboratorium Geofisika Carnegie, bekerja dengan rekan-rekannya dari China, mencakup Haijun Huang dari Universitas Teknologi Wuhan China, sekarang ilmuan tamu di Carnegie. Tim ini memberikan data eksperimental baru yang mempersempit identitas keberadaan unsur ringan di inti luar Bumi.
 Dengan bertambahnya kedalaman Bumi, tekanan dan panas juga meningkat. Sebagai hasilnya, bahan-bahan berperilaku berbeda dibandingkan saat mereka di permukaan. Pada pusat Bumi, ada inti luar cair dan inti dalam padat. Unsur ringan diduga berperan penting dalam mengendalikan pergolakan inti luar cair, yang membangkitkan medan magnet Bumi.
 Para ilmuan tahu variasi kepadatan dan kecepatan suara merupakan fungsi kedalaman di inti dari pengamatan gempa, namun hingga kini sulit mengukur sifat-sifat ini dalam alloy besi yang diajukan pada tekanan dan suhu inti di laboratorium.
 “Kita tidak dapat mengambil sampel dari inti secara langsung, jadi kita harus belajar mengenainya lewat eksperimen laboratorium yang digabungkan dengan model dan data gempa,” kata Fei.
Tumbukan kecepatan tinggi dapat menghasilkan gelombang kejut yang meningkatkan suhu dan tekanan bahan serentak, membuat bahan mencair pada tekanan yang bersesuaian dengan inti luar. Tim ini melakukan eksperimen gelombang kejut pada bahan inti, campuran besi, belerang, dan oksigen. Mereka mengejutkan bahan-bahan ini ke keadaan cair dan mengukur kepadatan dan kecepatan suara yang melewatinya dalam kondisi sama dengan inti luar cair.
Dengan membandingkan data mereka dengan pengamatan, mereka menyimpulkan kalau oksigen tidak dapat menjadi komponen unsur ringan utama dalam inti luar Bumi, karena eksperimen pada bahan kaya oksigen tidak sesuai dengan pengamatan geofisika. Hal ini mendukung model terbaru diferensiasi inti pada Bumi purba dalam lingkungan reduktif (kurang oksidasi), membawa pada inti yang miskin oksigen.
“Penelitian ini mengungkapkan cara yang kuat untuk memecahkan identitas unsur ringan di inti. Penelitian lebih lanjut harus berfokus pada keberadaan potensial unsur-unsur seperti silikon di inti luar,” kata Fei.
 Sebagian penelitian ini didanai oleh beasiswa dari Yayasan Sains Alam Nasional China, Dana Penelitian Dasar Universitas Pusat, dan Penelitian Dasar Nasional China, serta Yayasan Sains Nasional AS dan Lembaga Sains Carnegie.

Otak Memproses Visual dengan Lebih Cepat Pada Tubuh Telanjang

0 komentar
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dalam waktu kurang dari 0,2 detik, otak memproses gambar tubuh telanjang dengan lebih efisien dibandingkan pada gambar tubuh berpakaian.

Para peneliti di Universitas Tampere dan Universitas Aalto, Finlandia, telah menunjukkan bahwa persepsi pada tubuh telanjang terdorong pada tahap awal pemrosesan visual.
Kebanyakan orang suka melihat gambar tubuh manusia telanjang atau berpakaian minim. Melihat tubuh telanjang menimbulkan gairah seksual, dan tubuh manusia telanjang menjadi subjek dalam seni klasik. Periklanan, juga, telah memanfaatkan model setengah berpakaian untuk membangkitkan citra positif tentang produk yang diiklankan. Studi pencitraan otak telah melokasikan area-area lokal di otak yang khusus dalam mendeteksi tubuh manusia dalam lingkungan, tapi sejauh ini belum diketahui apakah otak memproses tubuh yang telanjang dan berpakaian dengan cara yang berbeda.
Para peneliti di Universitas Tampere dan Universitas Aalto, Finlandia, kini telah menunjukkan bahwa persepsi pada tubuh telanjang terdorong pada tahap awal pemrosesan visual.
Dalam studi tersebut, para relawan ditunjuki gambar-gambar pria dan wanita di mana model-modelnya mengenakan pakaian sehari-hari, baik pakaian normal atau pakaian renang, atau yang telanjang. Pada saat yang sama, respon otak visual direkam dari aktivitas listrik otak para peserta. Metode ini memungkinkan para peneliti untuk menyelidiki tahap awal pengolahan informasi visual.
Amplitudo respon awal otak visual (respon "N170") pada berbagai jenis gambar yang menunjukkan tubuh manusia. Bar pada gambar mewakili seberapa kuat respon yang ditimbulkan oleh gambar-gambar tubuh. (Kredit: PLoS ONE)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dalam waktu kurang dari 0,2 detik, otak memproses gambar tubuh telanjang dengan lebih efisien dibandingkan pada gambar tubuh berpakaian.
Saat para peneliti mengurangi pakaian pada gambar model yang berpakaian, pengolahan informasi pun mengalami peningkatan. Hasilnya, respon otak yang terkuat adalah pada saat para peserta melihat foto-foto tubuh telanjang, terkuat kedua adalah saat melihat tubuh berpakaian renang, dan yang terlemah adalah saat melihat tubuh berpakaian lengkap. Respon otak para peserta pria lebih kuat saat melihat tubuh wanita telanjang daripada laki-laki telanjang, sedangkan respon otak peserta perempuan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin tubuh.
Hasil riset ini menunjukkan bahwa otak meningkatkan pengolahan sinyal-sinyal gairah seksual. Selain respon otak, evaluasi-diri para peserta serta pengukuran-pengukuran yang merefleksikan aktivasi sistem saraf otonom ternyata sesuai dengan harapan, menunjukkan bahwa gambar-gambar telanjang lebih membangkitkan gairah dibandingkan jenis gambar lainnya. Proses cepat sinyal seksual mungkin memainkan peran dalam reproduksi, dan memastikan persepsi efisien pada mitra pasangan potensial dalam lingkungan.

Mimpi Memulihkan Memori Yang Menyakitkan

0 komentar
Hasil studi ini menawarkan beberapa wawasan pertama terhadap fungsi emosional tidur Rapid Eye Movement (REM), yang biasanya mengambil 20 persen dari jam tidur manusia sehat.

Mereka bilang hanya waktu yang bisa menyembuhkan duka, dan penelitian terbaru dari University of California, Berkeley, menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan dalam tidur mimpi dapat membantu kita mengatasi penderitaan yang menyakitkan.
Para peneliti UC Berkeley telah menemukan bahwa selama fase mimpi pada tidur, yang juga dikenal sebagai tidur REM, kimiawi stres kita dimatikan dan otak memproses pengalaman emosional dan menumpulkan memori yang menyakitkan.
Temuan ini menawarkan penjelasan menarik tentang mengapa orang-orang yang menderita gangguan stress pasca-traumatik (PTSD), seperti para veteran perang, memiliki masa-masa yang sulit untuk pulih dari pengalaman menyedihkan dan menderita mimpi buruk yang berulang-ulang. Temuan ini juga menawarkan petunjuk mengenai mengapa kita bermimpi.
“Tahap mimpi pada tidur, berdasarkan komposisi neurokimia yang unik, memberikan kita suatu bentuk terapi semalam, balsem menenangkan yang menghilangkan tepian tajam dari pengalaman emosional masa sebelumnya,” kata Matthew Walker, profesor psikologi dan ilmu saraf di UC Berkeley dan penulis senior studi yang akan dipublikasikan pada 23 November, dalam jurnal Current Biology ini.
Bagi penderita PTSD, terapi semalam ini mungkin tidak bekerja secara efektif, sehingga ketika suatu “kilas balik dipicu oleh, katakanlah, knalpot mobil, hal ini menghidupkan sekali lagi seluruh pengalaman mendalam karena emosi yang belum dilucuti dari memori saat tidur. “
Hasil studi ini menawarkan beberapa wawasan pertama terhadap fungsi emosional tidur Rapid Eye Movement (REM), yang biasanya mengambil 20 persen dari jam tidur manusia sehat. Studi otak sebelumnya menunjukkan bahwa pola tidur menjadi terganggu pada orang yang menderita gangguan mood seperti PTSD dan depresi.
Sementara manusia menghabiskan satu-sepertiga kehidupan mereka untuk tidur, tidak ada konsensus ilmiah tentang fungsi tidur. Namun, Walker bersama tim risetnya telah membuka banyak misteri yang mengkaitkan tidur dengan pembelajaran, memori dan peraturan mood. Penelitian terbaru ini menunjukkan pentingnya keadaan mimpi REM.
“Selama tidur REM, kenangan diaktifkan kembali, dimasukkan ke dalam perspektif serta terkoneksi dan terintegrasi, namun dalam keadaan di mana zat neuro-kimia stres secara menguntungkan ditekan,” kata Els van der Helm, seorang mahasiswa doktor di bidang psikologi di UC Berkeley dan penulis utama studi tersebut.
Tiga puluh lima orang dewasa muda yang sehat berpartisipasi dalam studi ini. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing anggotanya diperlihatkan 150 gambar emosional, sebanyak dua kali dan terpisah selama 12 jam, selagi pemindai MRI mengukur aktivitas otak mereka.
Setengah dari partisipan diperlihatkan gambar pada pagi hari dan kembali diperlihatkan pada malam hari, mereka tidak tidur selama rentang waktu di antara dua tampilan tersebut. Setengah lainnya diperlihatkan gambar pada malam hari dan kembali diperlihatkan keesokan harinya setelah tidur semalam penuh.
Mereka yang tidur di antara kedua tampilan gambar melaporkan penurunan reaksi emosional yang signifikan terhadap gambar. Selain itu, pindaian MRI menunjukkan penurunan reaktivitas yang dramatis pada amigdala, bagian otak yang memproses emosi, memungkinkan korteks prefrontal “rasional” otak memperoleh kembali kontrol reaksi emosional para partisipan.
Selain itu, para peneliti mencatat aktivitas listrik otak para peserta selagi mereka tidur, dengan menggunakan electroencephalograms. Mereka menemukan bahwa, selama tidur mimpi REM, pola-pola aktivitas listrik tertentu mengalami penurunan, menunjukkan bahwa penurunan kadar zat neuro-kimia stres di otak menenangkan reaksi emosional pada pengalaman hari sebelumnya.
“Kami tahu bahwa selama tidur REM terjadi penurunan tajam dalam tingkat norepinefrin, suatu bahan kimia otak yang berhubungan dengan stres,” kata Walker. “Dengan pengolahan ulang pengalaman emosional sebelumnya dalam lingkungan neuro-kimia aman rendah norepinefrin ini selama tidur REM, kita bangun keesokan harinya, dan pengalaman-pengalaman itu telah melunak dalam kekuatan emosional mereka. Kita merasa lebih baik tentang mereka, kita merasa kita mampu mengatasi.”
Walker mengatakan ia menginformasikan efek menguntungkan dari tidur REM pada pasien PTSD ketika seorang dokter di rumah sakit Department Urusan Veteran AS di wilayah Seattle mengatakan kepadanya tentang obat tekanan darah yang sengaja mencegah mimpi buruk berulang-ulang pada pasien PTSD.
Ternyata obat generik tekanan darah memiliki efek samping yang menekan norepinefrin di otak, sehingga menciptakan otak menjadi lebih bebas stres selama REM, mengurangi mimpi buruk dan mempromosikan kualitas tidur yang lebih baik. Hal ini menyatakan adanya hubungan antara PTSD dan tidur REM, kata Walker.
“Studi ini dapat membantu menjelaskan misteri mengapa obat-obat ini membantu beberapa pasien PTSD dan gejalanya selama tidur mereka,” kata Walker. “Hal ini juga dapat membuka jalan pengobatan baru mengenai tidur dan penyakit mental.”